Post2

S


udah lama saya ingin memulai menulis. Tapi selalu terkendala ntah oleh apa. Semula saya mengira kendalanya adalah kekurangan waktu. Tapi setelah pensiun dimana waktu berlimpah tetap saja tak sebuah tulisanpun terselesaikan. Blog ini saya buat sebagai wadah untuk mulai serius menulis. Mengapa blog? karena dengan begini Saya dapat menulis dan mengedit  dimana saja selama ada koneksi internet. Saya seorang generalis alias tidak mempunyai keterampilan khusus, jadi apa yang akan saya tulis adalah hanya pengalaman pribadi yang mungkin tidak menarik bagi orang lain namun bagi saya sayang untuk dilupakan. Ada beberapa peristiwa dalam hidup yang ingin saya gali kembali dari ingatan dan menceritakannya dalam bentuk tulisan. Secara umum peristiwa-peristiwa itu adalah pengalaman hidup dimana saya mengalami beberapa kali setback/kemunduran 
kualitas hidup. Mungkin yang paling ekstrim adalah pada waktu saya tinggal bersama nenek di desa (jorong) kecil di tepi Danau Singkarak Sumatera Barat yang bernama Ombilin antara tahun 1964 - 1967. Saya katakan kemunduran kualitas hidup, karena saat  di Jakarta baru saja menikmati televisi, sementara disana listrik saja belum ada. Karena itu pengalaman-pengalaman disanalah yang yang Saya anggap paling menarik dan ingin saya tulis selagi belom terlalu banyak yang terlupakan. Usia saya waktu itu baru 10 tahun dan duduk di kelas IV SD karena itu sebagai anak kecil saya cepat sekali menyesuaikan diri dengan kehidupan orang kampung.

Perlu 2 - 3 hari naik kapal laut dari Tanjung Priok Jakarta ke Teluk Payur Padang dengan singgah beberapa jam di Bengkulu. Waktu itu, ntah sekarang, kapal besar tidak dapat berlabuh/merapat  di Bengkulu, karena itu kapal yang kami tumpangi hanya berhenti di tengah laut. Penumpang yang akan turun/naik diantar/jemput menggunakan perahu atau speedboad.
Saya tidak ingat tanggal dan bulan apa pada tahun 1964 itu kami berangkat ke Padang, Ayah, Mama, Saya dan dua adik Saya: Thursana dan Budiman. Saya ingat kapal yang kami tumpangi bernama Musi, belakangan Saya tahu bahwa itu adalah kapal barang dan tempat kami tidur disebut deck.
Pada hari ketiga sore hari sampailah Kapal kami di Teluk Bayur Padang. Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang bis menuju kampung Ombilin. Jarak dari Padang ke Ombilin hampir 100 km karena itu sesampainya di tujuan hari sudah malam, mungkin belom terlalu larut tapi karena tidak ada penerangan/listrik suasana terasa sangat gelap dan sepi.
Pertama-tama rumah yang dituju adalah rumah paman Mama yang kami panggil Datuk Suin. Beliau adalah adik sepupu Nenek (ibu dari mama). Yang Saya ingat waktu itu banyak sekali sanak saudara yang menyambut kedatangan kami di rumah Datuk Suin. Saya lupa apakah Nenek malam itu juga hadir di rumah Datuk Suin yang jelas malam itu juga kami berjalan kaki menuju rumah Nenek yang berjarak kurang lebih 600m ke arah barat.
Rumah Nenek sangat sederhana dan kecil tanpa kamar berukuran kurang lebih 8 x 5 meter dengan pintu kembar di tengah depan dan belakang. Bagian depan memiliki 2 buah jendela di kiri dan kanan. Walau demikian rumah tersebut letaknya sangat strategis, depan langsung berbatasan dengan jalan raya dan jalan kereta api, belakang rumah langsung tepian danau. Tidak semua orang beruntung memiliki tanah/rumah di tepi danau.

Comments

Popular posts from this blog

Post1

Post3